{"id":183,"date":"2021-05-04T16:29:42","date_gmt":"2021-05-04T16:29:42","guid":{"rendered":"https:\/\/karakter.co.id\/?p=183"},"modified":"2025-06-25T04:30:06","modified_gmt":"2025-06-25T04:30:06","slug":"29-juta-pengangguran-baru-bikin-daya-beli-macet","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/2021\/05\/04\/29-juta-pengangguran-baru-bikin-daya-beli-macet\/","title":{"rendered":"2,9 Juta Pengangguran Baru Bikin Daya Beli Macet"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">KARAKTER.CO.ID &#8211; Ekonom Senior CORE Indonesia Hendri Saparini menyebut 2,9 juta pengangguran baru akibat pandemi covid-19 jadi penyebab mandeknya konsumsi rumah tangga alias daya beli masyarakat.<br>Selama ini, mereka hanya mengandalkan bantuan sosial (bansos) dari pemerintah untuk dapat bertahan dari hari ke hari dan tidak dapat meningkatkan pengeluaran.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Bansos itu hanya sebagai survival. Nah, sementara dia membutuhkan tambahan income (pendapatan) untuk bisa menaikkan spending (belanja) mereka. Jadi inilah yang kemudian menjadi PR besar bagi Indonesia,&#8221; ujarnya dalam webinar &#8216;Menakar Efektivitas Stimulus Ekonomi&#8217;, Selasa (4\/5).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain pengangguran, Hendri juga menyebut rendahnya pengeluaran masyarakat berpendapatan atas dan menengah turut menahan pertumbuhan konsumsi rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Padahal, struktur konsumsi rumah tangga yang berkontribusi 65 persen terhadap PDB didominasi oleh dua kelas tersebut, yakni masyarakat berpendapatan atas dan menengah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun sampai saat ini, mereka masih memprioritaskan penghasilannya untuk menabung dan berinvestasi karena tingginya kekhawatiran atas covid-19.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Mereka belum spending, mereka masih akan tetap bertahan dengan kondisi seperti ini karena bagi mereka kesehatan itu nomor satu,&#8221; tuturnya.<br>Selain pengangguran,<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hendri juga menyebut rendahnya pengeluaran masyarakat berpendapatan atas dan menengah turut menahan pertumbuhan konsumsi rumah tangga.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Padahal, struktur konsumsi rumah tangga yang berkontribusi 65 persen terhadap PDB didominasi oleh dua kelas tersebut, yakni masyarakat berpendapatan atas dan menengah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun sampai saat ini, mereka masih memprioritaskan penghasilannya untuk menabung dan berinvestasi karena tingginya kekhawatiran atas covid-19.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Mereka belum spending, mereka masih akan tetap bertahan dengan kondisi seperti ini karena bagi mereka kesehatan itu nomor satu,&#8221; tuturnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Seperti diketahui,Kementerian Ketenagakerjaan mencatat jumlah pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan dirumahkan di tengah pandemi covid-19 sejauh ini mencapai 2,9 juta pada Mei tahun lalu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah menuturkan jumlah tersebut terdiri dari 1,7 juta orang yang sudah terdata dan 1,2 juta orang yang masih dalam proses validasi data.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Meski demikian,per 16 April lalu data terbaru menunjukkan jumlah PHK hanya 1,94 juta pekerja yang terdiri dari 1,5 juta pekerja sektor formal dan 443 ribu pekerja sektor informal. (*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KARAKTER.CO.ID &#8211; Ekonom Senior CORE Indonesia Hendri Saparini menyebut 2,9 juta pengangguran baru akibat pandemi&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":189,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[44],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-183","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ekonomi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/183","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=183"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/183\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3754,"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/183\/revisions\/3754"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/189"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=183"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=183"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=183"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=183"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}