{"id":31053,"date":"2026-07-08T10:56:34","date_gmt":"2026-07-08T10:56:34","guid":{"rendered":"https:\/\/karakter.co.id\/?p=31053"},"modified":"2026-07-13T10:57:37","modified_gmt":"2026-07-13T10:57:37","slug":"puskesmas-bontang-utara-1-berhasil-tekan-stunting-di-bawah-10-persen","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/2026\/07\/08\/puskesmas-bontang-utara-1-berhasil-tekan-stunting-di-bawah-10-persen\/","title":{"rendered":"Puskesmas Bontang Utara 1 Berhasil Tekan Stunting di Bawah 10 Persen"},"content":{"rendered":"<p dir=\"ltr\"><strong>KARAKTER.co.id, BONTANG<\/strong> \u2013 Upaya penanganan stunting di wilayah kerja Puskesmas Bontang Utara 1 menunjukkan hasil menggembirakan. Per Juli 2026, prevalensi stunting berhasil ditekan hingga berada di bawah 10 persen, tepatnya 9,92 persen atau sebanyak 267 balita dari total 2.692 balita yang menjadi sasaran pemantauan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Capaian tersebut tidak diraih secara instan. Puskesmas Bontang Utara 1 mengubah pendekatan penanganan stunting dengan mengedepankan analisis data yang akurat sebelum melakukan intervensi di lapangan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Kepala Puskesmas Bontang Utara 1, I Wayan Santika, mengatakan langkah pertama yang dilakukan adalah membangun sistem pendataan balita secara rinci melalui metode by name by address. Dengan cara itu, petugas dapat mengetahui kondisi setiap anak, faktor penyebab stunting, hingga jenis intervensi yang paling tepat diberikan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Selama ini banyak yang beranggapan penanganan stunting cukup dengan pemberian makanan tambahan. Padahal yang paling penting adalah mengetahui siapa yang membutuhkan bantuan, apa penyebabnya, lalu memberikan intervensi yang sesuai dengan kondisi masing-masing anak,&#8221; ujarnya, Rabu (8\/7\/2026).<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Strategi tersebut diperkuat melalui inovasi EMAS BU1 (Evaluasi dan Monitoring Anak Sehat), yakni sistem pemantauan digital berbasis Microsoft Excel yang mengolah seluruh data balita dari Posyandu setiap bulan.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Melalui sistem ini, petugas dapat memantau balita yang hadir maupun yang tidak datang ke Posyandu, mengevaluasi perkembangan status gizi secara berkala, hingga mendeteksi lebih dini anak-anak yang berpotensi mengalami stunting. Data yang diperoleh kemudian menjadi dasar dalam menentukan langkah intervensi sehingga lebih tepat sasaran.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Berdasarkan hasil pemantauan terbaru, Kelurahan Api-Api masih menjadi wilayah dengan angka stunting tertinggi, yakni 11,96 persen, disusul Bontang Kuala 11,48 persen, Bontang Baru 8,55 persen, dan Gunung Elai 8,10 persen. Meski demikian, seluruh capaian tersebut telah berada di bawah target prevalensi stunting Kota Bontang sebesar 12,5 persen, bahkan melampaui target nasional yang ditetapkan sebesar 14 persen.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Wayan menegaskan keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari kader Posyandu, tenaga kesehatan, pemerintah kelurahan, hingga keluarga balita yang aktif mengikuti program pemantauan tumbuh kembang anak.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">Ia berharap tren penurunan prevalensi stunting dapat terus berlanjut melalui pendataan yang konsisten dan intervensi yang lebih terarah.<\/p>\n<p dir=\"ltr\">&#8220;Kami menargetkan angka stunting terus turun. Setelah berhasil mencapai 9,92 persen, kami optimistis bisa menekan lagi hingga sekitar 8,21 persen pada bulan berikutnya melalui intervensi yang lebih tepat sasaran,&#8221; pungkasnya. (Adv)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KARAKTER.co.id, BONTANG \u2013 Upaya penanganan stunting di wilayah kerja Puskesmas Bontang Utara 1 menunjukkan hasil&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":31055,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[37],"tags":[353,363],"newstopic":[],"class_list":["post-31053","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-advetorial","tag-adv-kominfo-bontang","tag-stunting"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31053","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31053"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31053\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":31056,"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31053\/revisions\/31056"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/31055"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31053"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31053"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31053"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=31053"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}