{"id":797,"date":"2021-07-30T15:53:42","date_gmt":"2021-07-30T15:53:42","guid":{"rendered":"https:\/\/karakter.co.id\/?p=797"},"modified":"2025-06-25T04:30:08","modified_gmt":"2025-06-25T04:30:08","slug":"menguak-mitos-di-balik-kuping-caplang-berarti-pintar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/2021\/07\/30\/menguak-mitos-di-balik-kuping-caplang-berarti-pintar\/","title":{"rendered":"Menguak Mitos di Balik Kuping Caplang Berarti Pintar"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">KARAKTER.CO.ID &#8211; Selama beberapa waktu, ada mitos bahwa pemilik kuping caplang merupakan orang yang pintar.<br>Tak hanya itu, bahkan sempat ada mitos yang menyebut dulu kala orang-orang yang boleh sekolah hanya yang memiliki kuping caplang. Itu yang kemudian menimbulkan asumsi bahwa pemilik kuping caplang pasti pintar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Benarkah pemilik kuping caplang cenderung pintar?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Psikolog Kasandra Putranto mengatakan bahwa mitos ini semula berasal dari kepercayaan orang-orang China yang kemudian berkembang dan diyakini di negara-negara Asia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Sebenarnya asalnya dari kepercayaan Chinese yang mengatakan kuping caplang bawa rejeki jadi berkembang diterima di negara-negara Asia. Diyakini kuping caplang lebih pandai mendengarkan jadi menyerap lebih banyak, jadi lebih pintar,&#8221; kata Kasandra dikutip dari CNN.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebuah studi pada 2015 mengungkap bahwa orang menilai kepribadian anak-anak dengan telinga caplang atau menonjol tidak berbeda dengan anak-anak tanpa telinga caplang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bahkan, mereka cenderung menilai anak-anak yang telinganya paling menonjol sebagai yang paling cerdas dan menyenangkan. Tidak hanya itu, studi ini juga menunjukkan bahwa pemilik kuping caplang juga menarik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Temuan ini juga menunjukkan bahwa &#8220;telinga yang menonjol menarik perhatian mata, tetapi belum tentu dalam arti negatif,&#8221; kata Dr. Ralph Litschel, penulis utama studi tersebut, seperti dikutip LiveScience.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk beberapa anak dalam penelitian ini, menurut Litschel, telinga yang menonjol mungkin telah menambah kelucuan mereka.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam studi tersebut, para peneliti mengambil foto dari 20 anak, usia 5 sampai 19 tahun, yang sedang mempertimbangkan untuk menjalani otoplasty, prosedur pembedahan yang mengurangi tonjolan telinga.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mereka juga membuat versi Photoshop dari setiap gambar, mengubah telinga untuk menunjukkan bagaimana anak-anak akan terlihat setelah operasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Para peneliti menunjukkan gambar ke 20 pengamat, menggunakan alat pelacak mata untuk mengukur dengan tepat berapa lama pengamat menghabiskan waktu untuk melihat setiap bagian dari wajah anak-anak, dan juga meminta pengamat untuk menebak kepribadian anak-anak berdasarkan gambar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hasilnya menunjukkan bahwa pengamat menghabiskan sekitar 7 detik untuk melihat setiap wajah, dan melihat ke telinga selama sekitar 10 persen dari waktu itu untuk foto dengan telinga menonjol, dibandingkan dengan hanya 6 persen waktu untuk gambar yang di-Photoshop.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Diperkirakan bahwa orang fokus pada fitur wajah yang khas karena membantu kita mengenali orang lain, kata Litschel.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, para peneliti terkejut menemukan bahwa para pengamat tidak memiliki persepsi negatif tentang ciri-ciri kepribadian anak-anak dengan telinga yang menonjol.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Temuan menunjukkan bahwa telinga yang menonjol mungkin tidak membawa stigma sosial, seperti yang diperkirakan beberapa peneliti sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Secara umum, daya tarik diketahui sangat memengaruhi persepsi kepribadian seseorang, kata para peneliti.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan kata lain, ketika seseorang dinilai pintar atau sangat disukai, mereka juga dianggap menarik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Anak-anak dalam penelitian ini semua terlihat lucu dan pintar dengan caranya sendiri,&#8221; ujar Litschel.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hal senada juga disampaikan Kasandra. Dia mengatakan bahwa kepercayaan itu berkembang dan membentuk konsep diri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">&#8220;Dari sisi psikologis, [kepercayaan] itu menjadi bagian dari keyakinan yang akhirnya membentuk konsep diri,&#8221; tambahnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada penelitian lainnya, ahli biologi evolusioner telah mempelajari bahwa orang yang memiliki fisik berbeda -baik itu bentuk asimetri pada telinga dan jari- tidak hanya dianggap lebih menarik tetapi juga cenderung lebih sehat, lebih cerdas, dan lebih dominan daripada yang lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam studi yang diterbitkan Harvard pada 2011 tersebut menunjukkan bahwa orang-orang dengan asimetri-misalnya, ketidakseimbangan dalam panjang telinga atau jari-seringkali merupakan pemimpin &#8220;transformasional&#8221; yang lebih baik, yang mampu menginspirasi pengikutnya untuk mengesampingkan kepentingan pribadi demi kebaikan kelompok.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain itu, tim yang mereka pimpin mengungguli tim yang pemimpinnya memiliki tubuh yang lebih simetris. (*)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>KARAKTER.CO.ID &#8211; Selama beberapa waktu, ada mitos bahwa pemilik kuping caplang merupakan orang yang pintar.Tak&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":8,"featured_media":798,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"newstopic":[],"class_list":["post-797","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/797","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/8"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=797"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/797\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3916,"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/797\/revisions\/3916"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/798"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=797"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=797"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=797"},{"taxonomy":"newstopic","embeddable":true,"href":"https:\/\/karakter.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/newstopic?post=797"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}