Progres CKG di Samarinda Capai 5 Persen,Kendala Aplikasi Masih Dihadapi Saat ini

KARAKTER.CO.ID, Samarinda — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mencatat capaian pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) masih berada di kisaran 5 persen dari total jumlah penduduk. Sejumlah kendala, mulai dari keterbatasan sumber daya manusia (SDM), ketersediaan bahan habis pakai (BHP), hingga persoalan aplikasi, menjadi tantangan utama dalam pelaksanaannya.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismed Kusasih, mengatakan hingga saat ini capaian CKG di Samarinda telah menyentuh sekitar 40.000 peserta.

“Terakhir kita berada di angka 40.000 CKG. Kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk Samarinda sekitar 800.000 jiwa, itu baru sekitar 5 persen,” ujar Ismed saat ditemui di DPRD Samarinda, Senin (19/1/2026) kemarin.

Ismed menjelaskan, CKG merupakan program baru yang menjadi bagian dari program prioritas Presiden. Karena itu, hingga kini target pelaksanaan dari Kementerian Kesehatan masih belum ditetapkan secara pasti dan cenderung mengalami perubahan.

“Target dari Kementerian Kesehatan sendiri masih berubah-ubah karena ini program baru. Tapi dengan pengalaman selama setahun, tentu kita tetap konsisten menjalankan CKG,” katanya.

Berdasarkan hasil evaluasi Dinkes Samarinda pada 2026, terdapat dua kendala utama dalam pelaksanaan CKG, yakni keterbatasan SDM dan ketersediaan bahan habis pakai. Menurut Ismed, CKG mencakup pemeriksaan kesehatan bagi seluruh kelompok usia, mulai dari bayi baru lahir hingga lanjut usia, sehingga kebutuhan tenaga dan peralatan sangat bervariasi.

“Untuk usia 0 hari saja ada beberapa jenis pemeriksaan. Begitu juga anak sekolah hingga lansia, item pemeriksaannya berbeda-beda dan sangat tergantung pada bahan habis pakai,” ujarnya.

Ia menambahkan, pada tahun sebelumnya sempat ada pembahasan mengenai bantuan BHP dari Kementerian Kesehatan, namun hingga kini ketersediaannya masih menjadi tantangan di daerah.

Selain itu, kendala teknis juga muncul pada sistem aplikasi CKG yang dikelola oleh pemerintah pusat. Ismed menyebut aplikasi tersebut kerap mengalami gangguan karena harus terintegrasi dengan berbagai program lain.

“Aplikasinya sering bermasalah karena sering maintenance. Ini juga sudah kami sampaikan langsung ke tim pusat yang datang ke Samarinda untuk mengevaluasi,” ucapnya.

Ismed menegaskan, Dinkes Samarinda tidak ingin hanya mengejar capaian angka semata tanpa memperhatikan kualitas pemeriksaan. Ia mencontohkan, dalam pemeriksaan lansia terdapat delapan item yang seharusnya dilakukan, namun pada praktiknya aplikasi terkadang sudah menerima data meski pemeriksaan belum lengkap.

“Kami tidak mau mengejar kuantitas kalau tidak sesuai standar. Misalnya lansia seharusnya delapan item pemeriksaan, tapi baru satu atau dua item sudah masuk di aplikasi. Ini yang perlu disinkronkan,” katanya.

Meski demikian, Ismed memastikan Dinkes Samarinda tetap berupaya maksimal meningkatkan capaian CKG, termasuk melalui strategi jemput bola ke masyarakat.

“Kami tidak diam. Upaya jemput bola terus dilakukan, tapi sekali lagi sangat bergantung pada SDM, bahan habis pakai, dan dukungan sistem,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

.read_related { display: none !important; } .bio_author { display: none !important; } .bio_avatar { display: none !important; } .bio_author { display: none !important; } .beritaxx_related { display: none !important; } .beritaxx_commentform { display: none !important; } .copyright { display: none !important; } .area_footer_menu taxx_clear { display: none !important; } .after_title { display: inline !important; font-size: 14px !important; } .secondary_content { display: none !important; } .beritaxx_commentform { display: none !important; } .copyright { display: none !important; } .footer { display: none !important; } .taxxfooter { display: none !important; } .have_comment { display: none !important; }