Pernikahan Dini dan Pola Asuh Jadi Sorotan Penanganan Stunting di Bontang Utara

Kepala Puskesmas Bontang Utara Unit 1, I Wayan Santika. (Niwil)

KARAKTER.co.id, BONTANG – Pernikahan usia dini dinilai masih menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap kasus stunting pada anak di wilayah Bontang Utara. Selain kondisi ekonomi, kesiapan mental orang tua dalam mengasuh anak menjadi aspek penting yang turut menentukan tumbuh kembang balita.

Kepala Puskesmas Bontang Utara Unit 1, I Wayan Santika, mengatakan pasangan yang menikah di usia muda umumnya belum memiliki pemahaman yang memadai mengenai pola asuh anak. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pemenuhan kebutuhan gizi, kesehatan, hingga stimulasi tumbuh kembang anak.

“Kalau pernikahan dini itu secara mental calon orang tua belum terlalu memahami pola asuh anak. Ini yang paling banyak terjadi,” ujarnya, Kamis (9/7/2026).

Menurut Wayan, persoalan stunting tidak hanya dipengaruhi faktor ekonomi. Ia menilai pola pengasuhan yang tepat justru menjadi tantangan utama dalam upaya menekan angka stunting di masyarakat.

Sebagai langkah penanganan, Puskesmas Bontang Utara Unit 1 membentuk kelas pemulihan gizi yang melibatkan psikolog. Program tersebut bertujuan memberikan edukasi kepada para orang tua mengenai pola asuh yang benar sekaligus pendampingan dalam merawat anak.

“Banyak orang tua yang menikah muda, terutama pada anak pertama. Makanya kami hadirkan edukasi pola asuh sampai pendampingan psikolog,” katanya.

Selain edukasi, puskesmas juga menjalankan program intervensi intensif selama tiga bulan bekerja sama dengan KNI. Program tersebut difokuskan pada perbaikan status gizi balita yang terindikasi mengalami stunting.

Hasilnya, dari 25 anak yang mengikuti program intervensi, sebanyak 23 anak mengalami perbaikan status gizi. Bahkan, 18 anak di antaranya berhasil keluar dari kategori stunting.

“Harapannya sebenarnya kita bisa mengentaskan stunting. Fokus kita bukan hanya rehabilitasi anak yang sudah stunting, tapi juga mencegah munculnya stunting baru,” jelasnya.

Wayan menegaskan, upaya pencegahan stunting harus dilakukan sejak jauh sebelum seorang perempuan memasuki masa kehamilan. Menurutnya, perhatian terhadap kesehatan remaja, khususnya remaja putri, menjadi langkah strategis untuk memutus rantai stunting.

Ia mengungkapkan masih banyak remaja putri yang mengalami anemia tanpa disadari. Kondisi tersebut dapat berdampak pada kesehatan ibu saat hamil dan meningkatkan risiko bayi mengalami gangguan pertumbuhan.

“Kalau remaja sudah anemia kronis lalu hamil, nanti nutrisi untuk anaknya sulit terpenuhi dan anak berisiko stunting,” pungkasnya. (Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

.read_related { display: none !important; } .bio_author { display: none !important; } .bio_avatar { display: none !important; } .bio_author { display: none !important; } .beritaxx_related { display: none !important; } .beritaxx_commentform { display: none !important; } .copyright { display: none !important; } .area_footer_menu taxx_clear { display: none !important; } .after_title { display: inline !important; font-size: 14px !important; } .secondary_content { display: none !important; } .beritaxx_commentform { display: none !important; } .copyright { display: none !important; } .footer { display: none !important; } .taxxfooter { display: none !important; } .have_comment { display: none !important; }