KARAKTER.co.id, BONTANG – Puskesmas Bontang Utara 1 terus memperkuat strategi penanganan stunting melalui kolaborasi lintas sektor dan berbagai inovasi layanan kesehatan. Upaya tersebut tidak hanya berfokus pada pemberian makanan tambahan, tetapi juga melibatkan dunia usaha, peningkatan sanitasi, hingga layanan kesehatan bayi untuk mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
Kepala Puskesmas Bontang Utara 1, I Wayan Santika, mengatakan penanganan stunting membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Karena itu, pihaknya menggandeng sejumlah perusahaan melalui program orang tua asuh bagi balita stunting guna membantu pemenuhan kebutuhan gizi anak.
Perusahaan yang terlibat di antaranya KNI, Pupuk Kaltim (PKT), dan komunitas Pedal Gas. Masing-masing memberikan pendampingan sesuai wilayah binaan sehingga intervensi yang dilakukan lebih tepat sasaran.
“Hasilnya cukup baik. Dari sekitar 25 anak yang mendapat pendampingan intensif tahun lalu, sebanyak 18 anak berhasil keluar dari kategori stunting,” ujar Wayan, Rabu (15/7/2026).
Selain intervensi gizi, Puskesmas Bontang Utara 1 juga menghadirkan layanan pijat bayi yang dilakukan oleh tenaga kesehatan bersertifikat. Layanan tersebut diberikan sebagai salah satu upaya mendukung kesehatan bayi melalui peningkatan kualitas tidur, memperbaiki nafsu makan, serta membantu metabolisme tubuh sehingga proses pertumbuhan berlangsung lebih optimal.
Menurut Wayan, pendekatan kesehatan tidak cukup hanya berfokus pada aspek medis, tetapi juga harus menyentuh faktor lingkungan. Karena itu, pihaknya turut mengembangkan inovasi sanitasi melalui pembangunan jamban pesisir atau Rumpikon di kawasan Gunung Elai.
Program tersebut ditujukan untuk mengurangi praktik buang air besar sembarangan yang selama ini menjadi salah satu penyebab tingginya risiko penyakit infeksi pada anak. Hingga saat ini, sekitar 200 unit jamban telah terpasang di kawasan pesisir.
Ia menyebut perbaikan sanitasi memberikan dampak positif terhadap upaya penurunan stunting. Salah satu indikatornya terlihat dari capaian Gunung Elai yang kini menjadi wilayah dengan prevalensi stunting terendah di wilayah kerja Puskesmas Bontang Utara 1.
“Gunung Elai sekarang menjadi wilayah dengan angka stunting terendah, yaitu 8,10 persen. Kami melihat perbaikan sanitasi ikut mendukung penurunan stunting,” jelasnya.
Ke depan, Puskesmas Bontang Utara 1 akan terus memperkuat sinergi bersama pemerintah, perusahaan, kader kesehatan, dan masyarakat. Dukungan teknologi digital yang telah diterapkan dalam pemantauan balita juga akan terus dioptimalkan agar deteksi dini dan intervensi dapat dilakukan lebih cepat.
Dengan berbagai strategi tersebut, Puskesmas Bontang Utara 1 menargetkan prevalensi stunting di wilayah kerjanya dapat terus ditekan hingga mencapai sekitar 6 persen pada 2027. Target itu diyakini dapat tercapai apabila kolaborasi lintas sektor, peningkatan kualitas layanan kesehatan, serta kesadaran masyarakat dalam menjaga gizi dan sanitasi terus berjalan secara berkelanjutan. (Adv)












