Harus Penuhi SOP, Dinkes PPU Ingatkan Masyarakat Tak Asal Lakukan Fogging

KARAKTER.CO.ID, Penajam Paser Utara — Di tengah meningkatnya kewaspadaan warga terhadap demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Dinas Kesehatan (Dinkes) PPU kembali menegaskan bahwa fogging bukanlah solusi instan yang bisa dilakukan kapan saja.

Langkah ini hanya boleh dilakukan setelah memenuhi indikator epidemiologis sesuai standar operasional prosedur (SOP).

Penata Kelola Layanan Kesehatan Dinkes PPU, Harjito Ponco Waluyo, menjelaskan bahwa fogging tetap menjadi metode pengendalian nyamuk dewasa, namun penerapannya tidak bisa didasarkan pada kekhawatiran masyarakat.

“Fogging itu ada SOP-nya. Tidak bisa hanya karena ada permintaan. Harus ada temuan kasus DBD dulu, kemudian dilakukan penyelidikan epidemiologi. Kalau dalam seminggu ditemukan tiga kasus positif, baru kita lakukan fogging,” ujarnya.

Ia menambahkan, fogging pun dilakukan dalam dua tahap. Ada jeda enam hari untuk memastikan jentik yang tersisa berkembang menjadi nyamuk dewasa dan dapat diberantas pada penyemprotan berikutnya.

“Fogging pertama membunuh nyamuk dewasa. Enam hari kemudian, jentik yang tadinya belum mati berubah jadi nyamuk. Makanya harus ada fogging kedua untuk memutus siklusnya,” jelasnya.

Namun, kata Harjito, fogging tidak akan efektif jika masyarakat mengabaikan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Upaya ini meliputi pemeriksaan tempat-tempat penampungan air bersih, menguras, menutup, serta menabur larvasida pada wadah yang tidak bisa dikosongkan.

“Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa. Kalau sarangnya masih ada, jentiknya tetap hidup. Enam hari kemudian muncul nyamuk baru. Jadi PSN itu wajib dilakukan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan warga bahwa Aedes aegypti, nyamuk penyebab DBD, tidak berkembang biak di air kotor seperti yang sering diasumsikan. Justru air bersih dalam wadah-wadah tersembunyi menjadi lokasi yang paling disukai.

“Belakang kulkas, kaleng bekas, ruas bambu, bak mandi yang tidak dipakai itu tempat nyaman sekali untuk jentik. Airnya bening, teduh, dan jarang tersentuh,” paparnya.

Harjito menilai, permintaan fogging berulang tanpa dasar penularan justru bisa menimbulkan salah kaprah di tingkat masyarakat tentang cara pencegahan DBD yang benar.

“Salah kalau sebentar-sebentar minta fogging. Kalau tidak ada penularan aktif, fogging tidak menyelesaikan apa-apa. Yang utama itu PSN,” tandasnya. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

.read_related { display: none !important; } .bio_author { display: none !important; } .bio_avatar { display: none !important; } .bio_author { display: none !important; } .beritaxx_related { display: none !important; } .beritaxx_commentform { display: none !important; } .copyright { display: none !important; } .area_footer_menu taxx_clear { display: none !important; } .after_title { display: inline !important; font-size: 14px !important; } .secondary_content { display: none !important; } .beritaxx_commentform { display: none !important; } .copyright { display: none !important; } .footer { display: none !important; } .taxxfooter { display: none !important; } .have_comment { display: none !important; }