KARAKTER.CO.ID, PPU – Aktivitas arus mudik di Terminal Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), hingga saat ini masih terpantau sepi. Peningkatan jumlah penumpang diperkirakan baru akan terjadi sekitar lima hari menjelang Hari Raya Idulfitri.
Petugas pengatur penumpang dari Federasi Serikat Pekerja Transport Indonesia (FSPTI) Penajam, Abdul Rahmat, mengatakan kondisi terminal saat ini belum menunjukkan peningkatan signifikan.
“Kalau sekarang masih sepi. Paling banyak tiga mobil yang berangkat itu sudah termasuk banyak,” ujarnya, saat ditemui, Kamis (5/3) siang.
Menurut Rahmat, lonjakan penumpang biasanya baru terlihat mendekati Lebaran. Ia memperkirakan arus mudik mulai terasa sekitar H-5 Idulfitri.
“Biasanya H-5 mau Lebaran baru kelihatan arus mudiknya,” katanya.
Ia menjelaskan, operasional angkutan di terminal terdiri dari bus dan kendaraan jenis L300 atau yang biasa disebut “kol”. Untuk bus, jadwal keberangkatan umumnya terbagi dalam dua sesi, yakni pagi dan siang.
“Kalau bus pagi biasanya dari jam 08.30 sampai 11.00. Kalau siang dari 12.30 sampai sekitar 15.30 atau 15.45,” jelasnya.
Sementara untuk kendaraan L300 tidak memiliki jadwal tetap. Kendaraan tersebut baru berangkat setelah jumlah penumpang mencapai minimal 11 orang.
“Kalau kol itu tidak ada waktu khusus. Yang penting penumpangnya sudah minimal 11 orang, baru berangkat,” ungkap Rahmat.
Di Terminal Penajam sendiri terdapat sekitar 9 unit Bus di Penajam. Sebanyak 4 unit yang beroperasi pada pagi hari, dan 5 unit beroperasi di siang hingga sore hari.
Selain itu, terdapat 76 unit L300 yang beroperasi melayani rute Penajam menuju Grogot dan sejumlah wilayah di Kabupaten Paser seperti Babulu, Longkali, Simpang, hingga Kuaro. Namun kendaraan tersebut beroperasi dengan sistem giliran.
“Mobil yang standby di Penajam sekitar 50 sampai 60 unit, aslinya ada 76 unit, tetapi sistemnya giliran. Ada yang seminggu atau sampai 10 hari baru dapat giliran lagi,” paparnya.
Untuk tarif perjalanan, bus menuju Grogot dipatok sekitar Rp60 ribu per penumpang, sedangkan L300 sebesar Rp70 ribu.
“Bus sekitar Rp60 ribu, kalau L300 Rp70 ribu,” ujarnya.
Khusus rute Ibu Kota Nusantara (IKN), penumpang biasanya melakukan sistem carteran kendaraan, atau menggunakan bus asal Samarinda dengan rute Samarinda-IKN-Grogot.
Rahmat juga menjelaskan bahwa bus antar kota biasanya memiliki armada cadangan untuk mengantisipasi kerusakan kendaraan saat melayani penumpang.
“Kalau bus biasanya setiap perusahaan minimal punya satu unit cadangan untuk antisipasi kalau ada kendaraan yang rusak,” jelasnya.
Tambahnya, ia menyebut pada musim mudik sebelumnya tidak ada posko pengamanan khusus di area terminal.
Posko tersebut biasanya melibatkan petugas gabungan dari kepolisian dan Dinas Perhubungan.
“Tahun kemarin tidak ada posko. Biasanya kalau ada itu gabungan dari polisi dan Dishub untuk penjagaan,” katanya. (**)












