Tak Hadiri RDP yang Dijadwalkan, Atos Sebut Kepala Dinas Tidak Serius

KARAKTER.CO.ID – Beberapa kepala dinas yang diundang tidak menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bontang, pada Selasa (13/6/2023) pagi di ruang rapat lantai II Gedung Sekretariat DPRD Kota Bontang.

Di antaranya Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kota (Perkimtan), Kepala Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan (Bapelitbang), dan Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Penataan Ruang (PUPRK).

Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bontang, Amir Tosina mengatakan RDP tersebut untuk membahas hasil sidak Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 5 yang dilakukan beberapa bulan lalu.

“Mereka hanya mengirim delegasi staf saja. Kepala dinas ataupun kepala bidangnya tidak ada yang hadir. Seperti tidak serius”, ungkapnya.

Kata dia, sejatinya yang bisa menyampaikan mengenai permasalahan tersebut yakni orang yang sudah berkompeten di bidangnya atau yang memiliki kewenangan. Sehingga bisa menyimpulkan kebijakan yang akan diambil.

Oleh karena itu ia mempertanyakan delegasi staf yang hadir apakah dititipkan pernyataan yang akan disampaikan. Agar sesuai dengan apa yang ditemukan pada saat sidak di SMPN 5 beberapa waktu lalu tersebut.

Sedangkan, kata Atos pada saat inspeksi mendadak (sidak), pihaknya sudah menegaskan kepada pemerintah supaya berkoordinasi dengan perusahaan. Pasalnya perbaikan jembatan penyeberangan di SMPN 5 sangat dibutuhkan.

“Kalau banjir melanda mereka (guru dan murid) tidak bisa melewati jembatan”, ucapnya.

Menyikapi hal tersebut, Staf Sumber Daya Air PUPRK Bontang, Dina Ririn mengatakan Kabid SDA tidak menghadiri rapat lantaran bertepatan dengan agenda yang lain di luar.

Namun, ia mengaku sudah mendapat titipan pernyataan yang akan disampaikan ke DPRD. Yakni saluran di SMPN 5 yang terletak di Kelurahan Belimbing, Kecamatan Bontang Barat merupakan lahan perusahaan.

“Status lahannya masih punya perusahaan. Kami juga sudah menggali saluran untuk mengalirkan air tetapi secara manual jadi tidak maksimal”, ungkapnya.

Pun pihak mereka sudah menggali untuk mengalirkan aliran air, tetapi galian dilakukan manual jadi pekerjaan itu belum maksimal. Namun mengenai saluran drainase, mereka belum tahu bagaimana ke depannya karena lahan milik perusahaan.

Sehingga Dini Ririn pun tidak tahu menahu mengenai saluran drainase di kawasan tersebut kedepannya akan dikerjakan pihaknya atau pihak perusahaan.

“Karena lahannya milik perusahaan. Jadi tidak tahu apakah kita yang kerjakan atau KIE”, tutupnya.

Reporter: Ira

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

.read_related { display: none !important; } .bio_author { display: none !important; } .bio_avatar { display: none !important; } .bio_author { display: none !important; } .beritaxx_related { display: none !important; } .beritaxx_commentform { display: none !important; } .copyright { display: none !important; } .area_footer_menu taxx_clear { display: none !important; } .after_title { display: inline !important; font-size: 14px !important; } .secondary_content { display: none !important; } .beritaxx_commentform { display: none !important; } .copyright { display: none !important; } .footer { display: none !important; } .taxxfooter { display: none !important; } .have_comment { display: none !important; }