KARAKTER.co.id – Kota Bontang saat ini menghadapi krisis air bersih yang semakin mendalam. Mengantisipasi masalah ini, Anggota Komisi I DPRD Bontang, Adrof Dita, menyampaikan upaya yang tengah dilakukan untuk mengatasi defisit air baku.
Saat bincang-bincang dengan awak media ini, Dita mengungkapkan bahwa eksplorasi sumber air baku melalui Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Marangkayu masih menghadapi kendala.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPEDA). Kebetulan saat ini kita melakukan evaluasi terhadap Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD). Saya sudah memberikan masukan karena kita sangat membutuhkan air baku untuk menangani krisis air bersih yang diperkirakan akan mencapai puncaknya pada tahun 2026 mendatang,” bebernya,
Menurut Dita, saat ini Bontang mengalami defisit air baku. Baik pemerintah kota maupun lembaga legislatif saat ini gencar mencari alternatif, salah satunya adalah memanfaatkan air bekas galian tambang PT Indominco Mandiri dan bendungan Suka Rahmat.
Kendati ada hambatan dalam memanfaatkan sumber air dari Marangkayu, seperti biaya yang besar, Dita menilai solusi dari Indominco dan Suka Rahmat cukup menjanjikan.
Dari sisi kami, sebenarnya memanfaatkan air dari bekas tambang Indominco dan bendungan Suka Rahmat sudah cukup. Ini bisa memenuhi kebutuhan air baku hingga 10 hingga 19 tahun ke depan. Apalagi jika ditambah dengan bendungan Suka Rahmat, potensi ini bisa lebih jauh lagi,” tuturnya.
Lebih lanjut, Dita menyarankan agar sumber-sumber air ini dimasukkan dalam perencanaan perubahan besar provinsi. Hal tersebut guna memastikan bahwa sumber-sumber baku ini segera terealisasi.
“Jika memungkinkan, kami bisa melakukan eksplorasi lebih lanjut, tetapi dari sudut pandang kami, Indominco dan Suka Rahmat adalah opsi yang paling terlihat jelas,” sebutnya.
Bontang saat ini tengah berada di fase kritis terkait krisis air bersih. Pemangku kebijakan Kota Taman berupaya keras untuk memastikan adanya pasokan air bersih yang memadai untuk masyarakat di masa depan.
“Hak masyarakat terhadap air bersih adalah prioritas utama kami. Kami berkomitmen untuk mengatasi krisis ini dengan solusi yang tepat,” ujar Dita.
Krisis air bersih di Bontang memerlukan perhatian dan tindakan koordinatif antara pemerintah daerah, legislatif, dan masyarakat untuk memastikan bahwa semua sumber daya dimanfaatkan sebaik mungkin agar krisis air bersih dapat diatasi secara efektif.
Dengan upaya yang sedang dilakukan, diharapkan Bontang dapat mengatasi defisit air baku dan memenuhi kebutuhan air bersih masyarakatnya di masa depan. Pemerintah dan pihak terkait diharapkan dapat segera merealisasikan rencana ini agar Bontang tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang dengan pasokan air bersih yang stabil.
Selain itu, Dita juga menekankan perlunya adanya dukungan dari pemerintah provinsi dan pusat. Dukungan tersebut akan sangat membantu dalam mempercepat proses implementasi dan memastikan ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
“Kami berharap ada dukungan dari pemerintah provinsi dan pusat untuk merealisasikan rencana ini,” pungkasnya.
Penulis : Rae












