Rustam Soroti Belum Jelasnya Regulasi Penyeberangan Wisata ke Beras Basah

Ketua Komisi B DPRD Bontang, Rustam.

KARAKTER.co.id, BONTANG – Ketua Komisi B DPRD Bontang, Rustam, menyoroti belum jelasnya regulasi yang mengatur aktivitas penyeberangan wisatawan menuju sejumlah destinasi wisata bahari di Bontang, termasuk Beras Basah.

Menurut Rustam, persoalan regulasi menjadi salah satu tantangan pemerintah dalam melakukan pengawasan. Pasalnya, wisatawan dapat memilih berbagai titik keberangkatan dan tidak seluruhnya menggunakan dermaga khusus yang dikelola pemerintah.

“Kalau melihat kondisi sekarang, kesulitan yang dilakukan pemerintah itu terkait regulasi. Regulasi kita belum ada yang mengatur masalah pariwisata ini, termasuk mungkin penentuan titik keberangkatan,” kata Rustam, Sabtu (15/8/2026).

Ia menyebut, kapal menuju destinasi wisata seperti Beras Basah, Malahing, Tihi-Tihi dan Selangan dapat berangkat dari sejumlah lokasi. Kondisi tersebut membuat pemerintah tidak mudah melakukan pengawasan secara terpusat.

Di sisi lain, aktivitas tersebut juga berkaitan dengan pola bisnis para pemilik kapal. Wisatawan umumnya berhubungan langsung dengan pemilik atau operator kapal berdasarkan rekomendasi maupun pengalaman sebelumnya.

“Memang susah kita atur, karena ini alur bisnis mereka. Kita juga tidak punya dermaga khusus. Mereka mencari sendiri, bukan dari pihak-pihak yang ada,” jelasnya.

Rustam menilai kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena sebagian kapal yang digunakan untuk mengangkut wisatawan pada dasarnya merupakan kapal nelayan yang kemudian difungsikan untuk membawa penumpang.

Karena itu, ia mendorong adanya mekanisme yang lebih jelas untuk memastikan kapal yang digunakan wisatawan memenuhi aspek keselamatan. Setidaknya, kapal harus memiliki life jacket, identitas atau nomor kapal yang terdaftar, serta sarana komunikasi atau kontak darurat.

Menurutnya, pengaturan tidak harus mematikan aktivitas ekonomi masyarakat yang selama ini menggantungkan pendapatan dari jasa penyeberangan. Namun, keselamatan wisatawan tetap harus menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan.

Lebih jauh, ia juga mengingatkan wisatawan agar tidak hanya mempertimbangkan harga ketika memilih jasa penyeberangan. Kondisi kapal, perlengkapan keselamatan, serta kemampuan awak kapal juga perlu menjadi pertimbangan.

“Harapannya, pengunjung juga bisa lebih selektif memilih penyeberangan untuk ke Beras Basah. Jangan sampai karena ingin berwisata, aspek keselamatan justru diabaikan,” pungkasnya. (Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

.read_related { display: none !important; } .bio_author { display: none !important; } .bio_avatar { display: none !important; } .bio_author { display: none !important; } .beritaxx_related { display: none !important; } .beritaxx_commentform { display: none !important; } .copyright { display: none !important; } .area_footer_menu taxx_clear { display: none !important; } .after_title { display: inline !important; font-size: 14px !important; } .secondary_content { display: none !important; } .beritaxx_commentform { display: none !important; } .copyright { display: none !important; } .footer { display: none !important; } .taxxfooter { display: none !important; } .have_comment { display: none !important; }