Puskesmas Bontang Utara Unit 1 Klaim 18 Anak Berhasil Lepas dari Stunting

Kepala Puskesmas Bontang Utara Unit 1, I Wayan Santika. (Niwil)

KARAKTER.co.id, Bontang – Upaya penanganan stunting yang dilakukan Puskesmas Bontang Utara Unit 1 mulai menunjukkan hasil menggembirakan. Melalui program intervensi gizi intensif yang dijalankan bersama sejumlah mitra, sebanyak 18 anak di wilayah kerjanya dinyatakan berhasil lepas dari kondisi stunting.

Kepala Puskesmas Bontang Utara Unit 1, I Wayan Santika, mengatakan keberhasilan tersebut merupakan hasil dari program pendampingan selama tiga bulan terhadap 25 anak yang menjadi sasaran intervensi.

“Dari 25 anak yang kita intervensi selama tiga bulan, sebanyak 23 anak mengalami perbaikan status gizi yang signifikan dan 18 anak sudah lepas dari stunting,” ujar Wayan saat ditemui, Senin (6/7/2026).

Ia menjelaskan, program tersebut terlaksana berkat kolaborasi antara Puskesmas Bontang Utara Unit 1 dengan KNI serta dukungan dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan. Bentuk intervensi yang diberikan meliputi pemberian makanan tambahan tinggi kalori, susu nutrisi, vitamin D, hingga suplemen zinc bagi anak-anak stunting, khususnya yang berusia di bawah dua tahun.

“Anak-anak mendapatkan makanan tambahan tinggi kalori, mikronutrien, vitamin D, dan zinc. Setelah dievaluasi, hasilnya cukup baik dan menunjukkan perkembangan yang positif,” katanya.

Namun demikian, Wayan menegaskan bahwa stunting tidak semata-mata dipengaruhi oleh faktor kekurangan gizi atau kondisi ekonomi keluarga. Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, banyak kasus stunting juga dipicu oleh lingkungan tempat tinggal yang kurang sehat hingga pola asuh orang tua.

Menurutnya, terdapat keluarga dengan kondisi ekonomi yang tergolong baik, tetapi anaknya tetap mengalami stunting karena sering terpapar asap rokok di lingkungan rumah sehingga lebih rentan terserang penyakit.

“Ada orang tuanya yang pekerjaannya bagus, tetapi lingkungan rumahnya tidak sehat. Banyak perokok di sekitar anak sehingga anak sering sakit dan pertumbuhannya terganggu,” jelasnya.

Karena itu, ia menekankan pentingnya upaya pencegahan sejak dini, terutama pada periode emas pertumbuhan anak atau usia di bawah dua tahun. Pada fase tersebut, intervensi gizi dinilai masih sangat efektif untuk memperbaiki pertumbuhan anak.

“Yang paling penting adalah mencegah munculnya kasus stunting baru. Kalau usia anak sudah melewati lima tahun, peluang rehabilitasi pertumbuhannya jauh lebih sulit sehingga bukan lagi menjadi sasaran utama intervensi,” pungkasnya. (Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

.read_related { display: none !important; } .bio_author { display: none !important; } .bio_avatar { display: none !important; } .bio_author { display: none !important; } .beritaxx_related { display: none !important; } .beritaxx_commentform { display: none !important; } .copyright { display: none !important; } .area_footer_menu taxx_clear { display: none !important; } .after_title { display: inline !important; font-size: 14px !important; } .secondary_content { display: none !important; } .beritaxx_commentform { display: none !important; } .copyright { display: none !important; } .footer { display: none !important; } .taxxfooter { display: none !important; } .have_comment { display: none !important; }