KARAKTER.co.id, BONTANG – Upaya percepatan penurunan stunting di Kota Bontang terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Pemerintah tidak hanya mengandalkan peran tenaga kesehatan, tetapi juga melibatkan berbagai instansi dan lembaga mulai dari Kantor Urusan Agama (KUA), sekolah, hingga pemerintah tingkat kelurahan.
Kepala Puskesmas Bontang Utara Unit 1, I Wayan Santika, menegaskan bahwa penanganan stunting merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan keterlibatan banyak pihak. Menurutnya, permasalahan stunting tidak bisa diselesaikan hanya melalui intervensi sektor kesehatan, tetapi juga membutuhkan dukungan dari sektor pendidikan, sosial, hingga keagamaan.
Untuk memperkuat sinergi tersebut, Puskesmas Bontang Utara Unit 1 secara rutin menggelar pertemuan lintas sektoral setiap tiga bulan sekali. Forum tersebut menjadi wadah koordinasi antara berbagai instansi dan stakeholder dalam membahas persoalan kesehatan masyarakat, termasuk upaya pencegahan dan penanganan stunting.
Salah satu bentuk kolaborasi yang telah berjalan yakni bersama Kementerian Agama melalui Kantor Urusan Agama (KUA). Dalam program tersebut, setiap calon pengantin diwajibkan menjalani pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari persiapan menuju keluarga sehat dan berkualitas.
“Kita juga jadi narasumber di kelas calon pengantin yang diadakan KUA,” ujar Wayan saat ditemui, Jumat (5/6/2026).
Menurutnya, edukasi kepada calon pasangan suami istri menjadi langkah penting untuk mencegah lahirnya generasi yang berisiko mengalami stunting. Dengan pemahaman yang baik terkait kesehatan reproduksi, gizi, dan pola asuh anak, diharapkan keluarga dapat mempersiapkan kehamilan dan tumbuh kembang anak secara optimal.
Selain menyasar calon pengantin, edukasi kesehatan juga diberikan kepada pelajar melalui program Puskesmas Go To School. Program ini bertujuan menanamkan pemahaman tentang kesehatan sejak usia dini, termasuk pentingnya gizi seimbang dan perilaku hidup bersih dan sehat sebagai langkah pencegahan stunting.
Puskesmas juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, seperti Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Sosial, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), kecamatan, kelurahan, hingga kader posyandu yang menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat.
Wayan menilai, keterlibatan seluruh unsur tersebut sangat penting untuk memastikan pesan-pesan kesehatan dapat menjangkau masyarakat secara luas dan berkelanjutan.
“Kalau hanya tanggung jawab Puskesmas, tidak mungkin kita bisa melakukan semua sendiri,” pungkasnya. (Adv)












