Kos Syariah Varia Niaga Pemkot Samarinda Mulai Berjalan, 30 Kamar Mulai terisi.

[16.54, 3/2/2026] Rahmat Wartawan Samarinda: Keterangan foto: Para pedagang pasar pagi Samarinda saat audiensi di DPRD Samarinda. Terbit Selasa 3 Februari 2026 DPRD Samarinda Kawal Relokasi Pasar Pagi, Tahap Dua Dipastikan Berkeadilan SAMARINDA — DPRD Kota Samarinda memastikan akan mengawal ketat proses relokasi pedagang Pasar Pagi Samarinda, khususnya pada pelaksanaan tahap kedua. Pengawalan dilakukan untuk memastikan kebijakan pemerintah kota berjalan adil dan sesuai data awal sebelum revitalisasi pasar. Anggota Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, mengatakan tahap pertama relokasi yang telah berjalan tidak lagi bisa diubah. Namun, DPRD tetap melakukan pengawasan guna memastikan tidak ada penyimpangan dalam proses tersebut. “Kita tidak mengotak-atik tahap satu, tapi memastikan ini benar atau tidak. Jangan sampai tahap satu jalan, ternyata ada permainan di situ. Itu yang kita awasi,” kata Iswandi saat ditemui, Selasa (3/2/2026). Menurut Iswandi, fokus utama saat ini adalah penyelesaian tahap kedua relokasi. Pada tahap ini, terdapat persoalan kekurangan kios serta perbedaan status antara pemilik eskap (hak kepemilikan kios) dan penyewa aktif. “Tahap dua ini kita pastikan sesuai edaran wali kota, karena ada kekurangan kios antara pemilik eskap dan penyewa aktif. Tinggal kebijakan dinas untuk memastikan mana yang benar-benar penyewa riil yang meramaikan Pasar Pagi sebelum direlokasi dan mana pemilik eskap yang sudah menyelesaikan hak dan kewajibannya,” ujarnya. Iswandi menegaskan DPRD tidak ikut campur dalam kebijakan administratif teknis, namun bertugas mengawal, mengawasi, dan memastikan seluruh proses berjalan berkeadilan. Ia menyebut data awal sebelum revitalisasi sudah dimiliki oleh dinas terkait. “Data awal itu ada di dinas, siapa penyewa, siapa pemilik, berapa kiosnya. Tugas kami memastikan pencocokan data supaya tidak ada hal-hal aneh,” tegasnya. Ia juga mengingatkan agar persoalan relokasi tidak memicu konflik antara pedagang penyewa dan pemilik eskap. Pemerintah Kota Samarinda, kata dia, telah menegaskan prioritas kepada pedagang riil yang benar-benar berjualan. “Kita jangan pakai bahasa-bahasa yang mengadu domba antara penyewa dengan pemilik eskap. Yang harus dicari itu solusi yang masuk akal, adil, dan tidak mencederai asas keadilan,” katanya. Terkait adanya penyewa yang sebelumnya mengelola hingga enam kios, Iswandi menyebut pembagian lapak tidak bisa disamaratakan. Menurutnya, keadilan tidak selalu berarti jumlah yang sama, melainkan proporsional sesuai kebutuhan dan rekam jejak pemanfaatan kios. “Kalau dihitung, kekurangan kios itu sekitar 280-an. Kalau tidak kurang, masalah ini tidak akan ada. Sekarang pemerintah kota yang pusing bagaimana supaya adil. Adil itu tidak harus sama, tapi proporsional,” jelasnya. Ia mencontohkan, pada tahap pertama relokasi terdapat pemilik yang sebelumnya memiliki enam kios, namun hanya mendapat empat karena dua kios lainnya tidak pernah membayar retribusi dan ditelantarkan. Selain persoalan relokasi, Iswandi juga menyoroti kondisi fisik bangunan Pasar Pagi yang dinilai masih perlu banyak evaluasi. Salah satunya terkait kios buah yang memiliki sirkulasi udara buruk sehingga menyebabkan buah cepat busuk. “Saya tinjau langsung, kios buah itu tertutup, udara susah masuk. Pedagang sampai bilang lebih baik jualan di koridor. Bahkan ada yang dua minggu tidak berjualan karena buah busuk dan pembeli tidak ada,” ungkapnya. Ia juga menyinggung adanya masalah kebocoran bangunan yang masih terjadi. DPRD, kata Iswandi, akan menyampaikan sejumlah catatan kepada dinas terkait agar segera dilakukan perbaikan. “Kalau memang belum siap dan malah membahayakan, kenapa tidak ditunda dulu? Percuma kalau dipaksakan tapi akhirnya sepi dan pedagang rugi,” ujarnya. Iswandi menegaskan Komisi II DPRD Samarinda akan terus memberikan catatan dan pengawasan agar revitalisasi dan relokasi Pasar Pagi benar-benar memberi manfaat bagi pedagang serta tidak menimbulkan persoalan baru di kemudian hari. RAP [16.56, 3/2/2026] Rahmat Wartawan Samarinda: Keterangan foto: Bebaya Kos Syariah Yang berada Di Jalan Perjuangan.

KARAKTER.CO.ID, SAMARINDA, — Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Varia Niaga Kota Samarinda mulai merealisasikan kerja sama pemanfaatan aset daerah bersama Pemerintah Kota Samarinda melalui pengelolaan kos syariah putri. Program ini dinilai berpotensi mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD) sekaligus menyediakan hunian yang nyaman dan tertib bagi mahasiswa.

Direktur Utama Perumda Varia Niaga, Syamsuddin Hamade, mengatakan kerja sama tersebut merupakan tindak lanjut dari paparan pemanfaatan aset yang telah dibahas bersama Pemerintah Kota Samarinda. Salah satu bentuk pemanfaatan aset itu adalah pengelolaan kos syariah yang diperuntukkan bagi mahasiswi.

“Kos syariah ini kos putri. Tapi bukan berarti hanya untuk muslimah. Nonmuslim juga boleh. Yang membedakan adalah sistem pengelolaannya yang berbasis syariah,” kata Syamsuddin saat diwawancarai di Kantor Varia Niaga, Selasa (3/2/2026).

Kos syariah tersebut memiliki 50 kamar. Hingga awal Februari 2026, tingkat hunian telah mencapai lebih dari 60 persen, atau terisi lebih dari 30 kamar. Menurut Syamsuddin, capaian ini cukup positif mengingat masa uji coba dimulai pada akhir Oktober 2025, yang bukan bertepatan dengan musim penerimaan mahasiswa baru.

“Waktu itu kita mulai simulasi di akhir Oktober. Itu bukan musim orang masuk kuliah. Tapi alhamdulillah sekarang okupansinya sudah di atas 60 persen,” ujarnya.

Dari sisi kerja sama, Syamsuddin menjelaskan bahwa skema bagi hasil telah ditetapkan oleh Wali Kota Samarinda. Dari hasil bersih pengelolaan kos syariah, 60 persen menjadi porsi Pemerintah Kota Samarinda, sedangkan 40 persen menjadi porsi Varia Niaga. Namun demikian, laba yang diperoleh Varia Niaga juga tetap berkontribusi pada PAD.

“Karena Varia Niaga sekarang sudah mulai laba, maka sesuai ketentuan, 30 persen dari laba bersih harus disetor kembali ke PAD,” katanya.

Dengan skema tersebut, kontribusi ke kas daerah tidak hanya berasal dari porsi langsung pemerintah kota, tetapi juga dari bagian laba Varia Niaga. “Dari 40 persen porsi Varia Niaga itu, 30 persennya lagi dikonversi menjadi PAD. Jadi kontribusinya berlapis,” ujar Syamsuddin.

Untuk tarif sewa, kos syariah ini dipatok berkisar Rp2 juta hingga Rp2,3 juta per bulan, tergantung fasilitas kamar. Selain hunian, kawasan kos syariah tersebut juga akan dilengkapi dengan Bebaya Mart, yang dirancang sebagai pusat kebutuhan penghuni.

“Nantinya ada kafe, ATK, dan minimarket sendiri. Konsepnya gandengan antara kos syariah dan Bebaya Mart,” kata Syamsuddin.

Ia menambahkan, Bebaya Mart yang telah beroperasi di kawasan Antasari menunjukkan perkembangan yang positif dan menjadi model pengembangan untuk lokasi lain. Namun, untuk Bebaya Mart yang berada di kawasan kos syariah, operasionalnya masih menunggu persetujuan dari Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD).

“Kami masih menunggu persetujuan BPKAD karena ada penyesuaian branding yang berkaitan dengan aset pemerintah. Secara konsep sudah kami presentasikan,” ujarnya.

Syamsuddin berharap kerja sama pemanfaatan aset ini dapat berjalan optimal ke depan, tidak hanya meningkatkan PAD, tetapi juga mendukung kebutuhan hunian layak dan tertib bagi mahasiswa di Kota Samarinda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

.read_related { display: none !important; } .bio_author { display: none !important; } .bio_avatar { display: none !important; } .bio_author { display: none !important; } .beritaxx_related { display: none !important; } .beritaxx_commentform { display: none !important; } .copyright { display: none !important; } .area_footer_menu taxx_clear { display: none !important; } .after_title { display: inline !important; font-size: 14px !important; } .secondary_content { display: none !important; } .beritaxx_commentform { display: none !important; } .copyright { display: none !important; } .footer { display: none !important; } .taxxfooter { display: none !important; } .have_comment { display: none !important; }