KARAKTER.co.id, BONTANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang mengingatkan masyarakat agar tidak menyederhanakan penyebab stunting hanya pada persoalan kekurangan makanan bergizi.
Kepala Dinkes Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, mengatakan stunting dipengaruhi berbagai faktor yang saling berkaitan, mulai dari kondisi kesehatan anak hingga lingkungan tempat tinggal.
“Stunting tidak hanya disebabkan kurang makan. Bisa juga karena infeksi berulang, sanitasi yang buruk, air bersih yang tidak layak, hingga pola hidup yang kurang sehat,” ujarnya, Selasa (18/8/2026).
Menurut Toetoek, infeksi yang terjadi berulang kali dapat mengganggu penyerapan zat gizi dalam tubuh anak. Kondisi tersebut kemudian dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Karena itu, penanganan stunting tidak selalu harus dilakukan melalui pemberian makanan tambahan atau bantuan pangan. Intervensi perlu disesuaikan dengan penyebab yang ditemukan pada masing-masing anak dan keluarga.
“Kalau penyebabnya bukan ekonomi, yang kita lakukan adalah edukasi, promosi kesehatan, memperbaiki pola asuh, sanitasi, dan lingkungan. Jadi bantuan tidak boleh dipukul rata,” katanya.
Sementara itu, hasil Operasi Timbang Juni 2026 menunjukkan masih adanya persoalan gizi pada balita di Bontang. Tercatat sebanyak 581 kasus wasting.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 391 anak mengalami wasting tanpa disertai stunting atau sekitar 3,96 persen.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena wasting menunjukkan adanya masalah gizi akut pada anak yang membutuhkan penanganan sesuai kondisi dan penyebabnya.
Dinkes Bontang pun mendorong penanganan masalah gizi dilakukan secara menyeluruh. Upaya tersebut mencakup pemenuhan gizi, pencegahan penyakit, perbaikan pola asuh, sanitasi, akses air bersih, serta peningkatan kesadaran keluarga terhadap kesehatan anak. (adv)












